RESEP NASU MANU LEKKU / AYAM MASAK LENGKUAS ALA BUGIS

PERKENALKAN, TEMAN BARUKU


dari kiri ke kanan: Imam (korcam), Ridho, Dra. Ichsani (pembimbing), Fathiyah, Masita, Uly.
 Ada kalanya ketika kamu sedang bersedih atau ketika sedang dirundung masalah, kamu membutuhkan sosok di sampingmu yang bisa menemanimu dan menjadi tempat pelampiasan keluh kesahmu. Keluarga tentu menjadi yang pertama, namun ketika keluarga tak bisa terus mendampingimu, pastilah teman atau sahabat yang akan menjadi orang pertama yang datang menghiburmu. Tak jarang kamu menganggap sahabatmu itu sebagai bagian dari keluargamu sendiri, mengangkat sahabat sebagai saudaramu. Meskipun hanya sahabat, tetapi terkadang sebagian orang malah justru lebih dekat dengan sahabatnya daripada saudara-saudaranya.


Sahabat memang selalu menjadi pelengkap ketika kita sedang kekurangan, oleh karena itu jangan pernah ragu untuk mencari sahabat atau teman-teman baru. “Sahabat adalah sebuah warna, semakin banyak sahabatmu maka akan semakin berwarna hidupmu”. Paling tidak itulah yang kurasakan saat ini. memasuki minggu kedua masa KKN, aku telah menemukan teman-teman baru. Hidupku semakin ramai dan berwarna berkat kehadiran orang-orang ini. Tiga dari empat orang teman poskoku merupakan teman baru yang kudapatkan yang kelak akan menjadi sahabatku. Salah satu diantara mereka telah menjadi sahabatku lebih dari dua tahun silam.

Sebenarnya tak hanya tiga orang ini yang menjadi teman baruku. Ada puluhan orang yang baru aku kenal dalam  dua minggu terakhir ini. Mereka semua sama seperti aku, sedang mengabdikan diri mereka di tengah-tengah masyarakat  melalui KKN. Beberapa diantara mereka juga telah aku kenal sebelumnya karena merupakan teman kuliahku. Di lokasi KKN inilah kami mulai saling berkenalan satu sama lain.

Rasanya tak akan cukup jika aku harus memperkenalkan satu persatu teman baruku. Untuk kali ini aku hanya akan meperkenalkan empat orang yang menjadi teman satu poskoku. Itu karena merekalah teman baru yang paling dekat denganku. Kurang lebih dua bulan aku akan tinggal bersama mereka di sebuah posko kecil yang penuh dengan canda dan tawa. Meskipun tak mengenal jauh sampai ke pribadi mereka, tetapi paling tidak aku telah mengenal beberapa karakter mereka, dan yang kutulis ini merupakan hasil dari pengamatan langsungku selama tinggal bersama mereka.

Yang pertama yaitu Koordinator desaku, namanya Ahmad Ridhai Azis tetapi sering dipanggil Ridho. Dialah yang kumaksud orang yang telah menjadi sahabatku selama dua tahun terakhir. Selain teman satu posko, dia juga merupakan teman satu kuliahku. Sosoknya keren, putih, dan memiliki postur tubuh yang cukup tinggi. Pantas saja kalau dia selalu menjadi incaran para gadis-gadis, apalagi itu didukung oleh wajahnya yang menurut sebagian orang mirip wajah boyband Korea yang saat ini sedang digandrungi para ABG wanita Indonesia. Benar saja, kini di tempat KKN ia telah dijuluki sebagai boyband.

Dua minggu lalu, pria yang hobi menelpon ini nyaris saja menderita di posko. Bagaimana tidak, setelah melalui pembagian posko, ternyata ia kurang beruntung karena tak memiliki teman satu posko sejenis dengannya. Empat orang beruntung lain yang satu posko dengannya ternyata semuanya adalah wanita. Nyaris saja ia menjadi bulan-bulanan di poskonya. Untung saja aku ditukar guling secara paksa dan akhirnya mendampinginya mengarungi waktu dua bulan di lokasi.

Ridho termasuk orang yang ceria namun memiliki pemikiran kritis. Dia juga senang menjahili teman seposkonya dengan kata-katanya yang lembut namun sangat mengiris hati. Tetapi sosok kepemimpinannya juga sangat tercermin dari tingkah lakunya, tak salah jika dia diangkat menjadi koordinator desa.

Yang kedua, namanya Mauidatul Ulya Adri yang lebih akrab dipanggil Uli. Awalnya aku kesulitan menebak karakter wanita satu ini. Sosoknya yang pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyibukkan dirinya sendiri membuatku tak bisa cepat akrab dengan dirinya. Namun kian waktu berlalu, aku sedikit demi sedikit mulai bisa memahaminya. Uli adalah sekertaris posko kami. menurutku posisi itu pantas melihat kegesitannya dalam mengerjakan sesuatu. 

Uli juga termasuk satu dari sekian banyak wanita Indonesia yang tergila-gila dengan artis Korea khususnya boyband. Beruntung dia satu posko dengan orang yang mirip artis Korea. Seringkali aku dengar dia memutar lagu-lagu korea melalui handphonenya. Lagu-lagu itu selalu menjadi pengantar dia untuk melakukan hobi lainnya yaitu tidur. Dua minggu bersamanya, akhirnya aku sedikit mengetahui karakternya. Ternyata dia tak sependiam penilaian awalku, Uli ternyata orang heboh yang sering mengeluarkan candaan tak terduga yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal.

Ketiga, dialah orang kaya di poskoku alias bendahara. Tya nama panggilannya dengan nama lengkap Fathiyah. Postur tubuh yang cukup tambun membuatnya mudah dibedakan dari yang lainnya. Tya berasal dari daerah yang sama denganku, Soppeng. Tya sering kali menjadi bulan-bulanan teman poskonya, lebih tepatnya aku dan Ridho. Kami kerap menjahilinya hingga dia mengamuk di posko, Terlebih ketika Ridho menggodanya dengan ejeken-ejekan candaan yang semakin membuatnya jengkel.

Dari situ aku kenal dengan sosoknya. Menurutku dia adalah sosok wanita yang sabar. Bagaimana tidak, hampir tiap hari kami menggodanya dengan olok-olok candaan, tetapi dia sama sekali tak pernah marah atau dendam kepada kami, malah hanya dibalas dengan tawanya yang khas. Meskipun begitu dia sering memasang raut wajah yang lain daripada biasanya ketika kami bercanda yang artinya dia tak senang dengan kata-kata kami yang halus namun sangat mengiris hati, perih seperti terkena sembilu. Fathiyah juga menjadi wanita satu-satunya yang membawa motor ke posko kami. Motornya juga masih seumur jagung, ini menjadi beban buat kami yang ingin meminjamnya. Setiap meminjam motor, kami terlebih dahulu harus mendengar ceramah darinya terkait perlakuan apa yang harus kami lakukan terhadap motor kesayangannya itu.

Yang terakhir yaitu Masita atau akrab dipanggil Sita. Wanita satu ini memiliki sifat yang sangat keibuan. Pembawaannya yang  kalem namun sangat  dewasa. Dia hanyalah anggota di poskoku, sama seperti aku tetapi perannya sangatlah besar apalagi jika itu menyangkut masalah rumah tangga. Sita terkenal rajin dalam melaksanakan kerja-kerja di posko, bahkan ia tak jarang membuatkan teman-temannya makanan atau minuman ketika sedang berkumpul, meskipun awalnya harus disuruh. Sosok keibuannya semakin tampak ketika di berhadapan dengan anak-anak kecil yang selalu meramaikan posko kami. Ia begitu cepat dapat akrab dengan anak-anak yang baru ditemuinya. Satu hal lagi, Sita tampaknya seorang penyayang binatang khususnya kucing, ini tampak dari tingkah lakunya yang sering kepergok berbicara dengan kucing di poskoku. Entah sedang membicarakan apa, hanya mereka yang tahu.

Itulah keempat teman poskoku dan ketiga teman baruku. Baru dua minggu aku mengenal mereka tetapi sudah banyak cerita dan kejadian- kejadian menyenangkan yang kami lalui bersama, begitupun dengan kejadian-kejadian yang kurang berkenan di hati. Masih ada satu bulan lebih waktu kami tinggal bersama dalam satu posko dan saat itu akan kami manfaatkan untuk lebih mengenal satu sama lain. Masih banyak cerita yang akan kami lalui bersama, dan semoga itu kelak akan menjadi cerita indah yang akan kami selalu kenang kelak ketika berpisah nantinya. Mereka semua adalah temanku yang akan kujadikan sahabatku. (Part 2)

Komentar