 |
| Posko KKNku di desa Tellumpanua, Kabupaten Barru |
Sebuah mobil kijang tua tiba-tiba saja berhenti tepat di
depan kantor kecamatan Tanete Rilau. Dari dalam mobil dengan warna hijau gelap
itu kemudian muncul seorang ibu-ibu yang tampak sedang mencari sesorang.
Disusul kemudian oleh supir yang membuntuti wanita tersebut dan juga melakukan
hal yang sama. Dalam hati aku berpikir, mungkin mereka yang akan menjemput
kami. Sudah hampir satu jam kami berdiri kepanasan di depan kantor kecematan
menunggu bapak kepala desa untuk menjemput dan mengantar kami ke posko.
Beberapa teman-temanku yang berposko di desa lain telah terlebih dahulu
dijemput.
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari belakang
kami, “Tellumpanua”. Seseorang berteriak menandakan bahwa orang yang akan
menjemput mahasiswa KKN yang berposko di
Tellumpanua telah datang. Ternyata kedua orang yang baru datang itu adalah
orang yang akan menjemput kami. Aku dan
teman-temanku yang berposko di Tellumpanua kemudian beranjak menghampiri mereka
lalu memperkenalkan diri. Wanita tersebut ternyata istri dari kepala desa
tempatku KKN, dengan kata lain dia adalah Ibu desa kami. Setelah berkenalan,
kami bergegas menaikkan barang kami ke mobil kecil yang tampak tak bisa
menampung beberapa koper milik rekan-rekanku yang berukuran besar. Namun
setelah dipaksa, akhirnya kami semua bisa muat di dalam mobil tersebut meskipun
harus berdesak-desakan.
Mobil kijang itu kemudian melaju meninggalkan kantor
kecamatan menuju ke posko kami. di perjalanan, kami mencoba untuk saling akrab
dengan saling bertanya satu sama lain. Di lain hal aku terus membayangkan posko
yang akan aku tempati nanti. Akankah aku mendapatkan posko yang bagus, dengan
fasilitas-fasilitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kami para mahasiswa
yang kadang tak ada batasnya? Ataukah kami akan menghabiskan waktu selama dua
bulan di tempat yang tak nyaman, tempat yang akan membuat kami tersiksa selama
mengabdi di tengah-tengah masyrakat. Sepanjang perjalanan aku terus terpikir
tentang poskoku itu. Aku yakin tak hanya aku yang menginginkan posko yang bagus
dengan beberapa perabot elektronik mewah, kamar mandi yang bersih, kamar yang
luas dan nyaman, dan tentunya persediaan air yang melimpah. Aku yakin semua
mahasiswa yang KKN menginginkan hal itu.
Akhirnya mobil kijang itu berhenti tepat di depan sebuah
rumah. Kuperhatikan rumah itu secara detail. Tak seperti harapanku. Rumah ini
kecil, tak ada pagar di depannya, Tak ada pekarangan rumah, tak ada pohon
rindang yang bisa kami tempati untuk bersantai, bahkan aku semakin gusar ketika
kuperhatikan keadaan rumah yang cukup kotor dan tak terawat. Banyak sampah yang
berserakan di sekitar pekarangannya yang sama sekali tak memiliki batas dengan
jalan raya di depannya. Keadaan kolong rumah jauh lebih buruk. Kolong rumah
tersebut telah ditutup dan dijadikan semacam gudang yang didalamnya terdapat
tumpukan karung yang entah apa isinya. Di samping gudang tersebut ada sebuah
kamar mandi. Aku semakin panik ketika kuperhatikan dinding luar kamar mandi
yang telah berlumut. Apa kami akan tinggal disini??? Aku semakin gelisah.
Setelah menurunkan barang bawaan kami, dari teras rumah
tersebut muncul seorang wanita yang tersenyum kepada kami dan langsung mengajak
kami untuk naik ke rumah. Kutelusuri beberapa anak tangga kecil yang juga tampaknya
mulai rapuh sambil mengangkat tasku yang cukup berat. Di dalam rumah, kuperhatikan lantai yang terbuat dari kayu tersebut ternyata
mulai lapuk, hal itu membuat suara-suara kayu yang bergesek ketika kita
berjalan. Memasuki pintu rumah, hawa panas langsung menyeruap. Kurasakan panas
menyentuh kulitku tatkala aku duduk di sebuah sofa yang sudah kurang layak
untuk dipakai. Keringat mulai menetes dari dahiku, membasahi pakaian dan jaket
KKN oranye yang kupake saat itu. Dalam hati aku bergumam, bagaimana tidak
panas, jika kita berdiri jarak antara
kepala dengan seng hanya berjarak sekitar satu meter. Ditambah lagi plafon yang
terbuat dari terpal berwarna biru telah sobek, hal itu membuat hawa panas dari
seng yang telah “dijemur” seharian bisa langsung terasa. Kuperhatikan
teman-temanku juga tampak berkeringat kepanasan. Aku yakin mereka tak suka
disini.
Poskoku ini terletak di sebuah dusun di pesisir pantai.
Tepat di depan poskoku terdapat sebuah dermaga dan tempat pelelangan ikan yang
belum rampung pembangunannya. Di tempat
itu hanya ada belasan ekor sapi yang berkeliaran dan sedang merumput. Tapi jika
diperhatikan, tempat ini cukup indah. Menurut cerita, di tempat ini sangat asik
untuk menikmati suasana sore sambil
menyaksikan matahari terbenam. Tak jarang tempat ini dijadikan pasangan
muda-mudi sebagai tempat untuk bermesraan dengan kekasih hati mereka.
Di rumah kecil ini hanya tinggal sebuah keluarga kecil
dengan tiga orang anggota keluarga. Sepasang suami istri dengan anak
laki-lakinya yang kuperkirakan baru berumur lima tahun. Sang suami bernama
bapak Basri, Ibu bernama Ana, dan si kecil yang tampak malu-malu ketika kami
datang bernama Atep, sama seperti nama pemain sepak bola Indonesia. Pak Basri
bekerja sebagai peternak ayam petelur, dan Ibu Ana bekerja sebagai guru di
sebuah taman kanak-kanak.
Setelah beberapa saat kami di persilahkan untuk
beristirahat. Kami yang berjumlah lima orang dipersilahkan untuk memilih kamar
untuk ditempati. Sebenarnya tak ada yang bisa kami pilih. Kamar yang tersedia
hanya dua buah. Aku dan teman laki-lakiku yang satunya memilih kamar yang
diujung yang berbatasan langsung dengan dinding depan rumah. Suasana di dalam
kamar tersebut benar-benar penat, banyak pakaian yang tergantung di dinding,
belum lagi hawa ekstra panas membuat kami tak tahan berlama-lama di dalam
ruangan berukuran 3x3 meter tersebut. Setelah merapikan barang-barangku, aku
kemudian keluar keteras rumah. Kuperhatikan lingkungan sekitar yang tak begitu
ramai. Disana hanya terdapat sebuah pos ronda, dan sebuah lapangan yang
tampaknya seperti lapangan sepak takraw. Apa yang akan aku lakukan disini???
Tanyaku dalam hati.
Aku kembali masuk ke kamar, berbaring dan mulai berpikir.
“apa aku akan betah disini?” pertanyaan itu terus menggerogoti pikiranku hingga
tak sadar aku tertidur. Mungkin karena terlalu lelah sehingga aku tak
memperdulikan lagi hawa panas di dalam kamarku. Aku terbangun sore harinya. Aku
lalu keluar ke teras, dan betapa terkejutnya aku melihat pemandangan di luar
sana. Benar-benar berbeda dari apa yang kulihat dan kurasakan siang tadi ketika
aku baru tiba. Di depan poskoku telah ramai oleh anak-anak kecil yang sedang
bermain. Tak jauh dari gerombolan anak-anak itu, puluhan pemuda maupun orang
tua sedang berbaris rapi di pinggir lapangan takraw sedang menyaksikan
permainan takraw pemuda setempat.
Tak hanya itu, jalanan yang tadinya sepi kini mulai ramai
oleh lalu lalang mobil maupun motor. Meskipun jalanannya hanya berupa jalan
bebatuan, tetapi tampak sangat sibuk dengan banyaknya kendaraan yang lewat.
Yang tak kalah menarik perhatianku adalah jauh di tengah laut sana. Sang raja
siang mulai merendah dan tampaknya akan segera terbenam. Langit yang berwarna
oranye seperti warna almamaterku tampak indah aku saksikan dari teras poskoku,
belum lagi kapal-kapal nelayan yang menghiasi lautan semakin menambah keindahan
sore itu. Benar saja kata orang, di dermaga sudah dipenuhi oleh puluhan orang
yang juga sedang menyaksikan matahari yang akan segera “tidur”. Tempat ini
benar-benar ramai.
Keadaan yang aku lihat sore itu membuat pikiranku sedikit
berubah. Ternyata tempat ini tak seperti yang aku duga sebelumnya. Tempat ini
indah dan nyaman. Tiba-tiba bapak poskoku datang dan mengatakan padaku bahwa
kamar mandi ada di depan sana, di dalam lokasi dermaga. Disana terdapat sebuah
bangunan kecil yang di dalamnya terdapat kamar mandi. Setelah aku cek ternyata
kamar mandinya cukup bagus dan bersih. Kekhawatiranku sebelumnya tentang kamar
mandi dengan dinding berlumut akhirnya hilang.
 |
| Atep |
Malam harinya, kami semakin akrab dengan Bapak dan Ibu
“sementara” kami. ternyata mereka orang yang sangat baik dan ramah. Bapak posko
kami malah lebih kocak, umurnya yang masih muda membuat aku cepat berbaur
dengannya. Satu hal lagi, si bocah kecil yang bernama Atep ternyata anak yang
sangat lucu, selain itu dia cukup pintar, mungkin karena didikan ibunya yang
juga seorang guru taman kanak-kanak. Kulewati malam dengan penuh canda dan tawa
dengan keluarga baruku, aku berbaring di tempat tidur, aku mulai berpikir lagi.
Sepertinya ketakutanku selama ini tidaklah benar. Tempat yang awalnya tak aku
sukai dan aku anggap hanya sebuah gubuk ternyata berubah menjadi tempat yang
menyenangkan. Aku terus berhayal tentang keindahan yang akan aku alami esok
hingga akhirnya aku tertidur.
**
Begitulah kisah awalku di posko yang kuanggap sebagai gubuk
kecil yang penuh dengan kebahagiaan. Harapanku yang tak sesuai dengan kenyataan
ternyata tak sepenuhnya membuat aku menyesal. Harapan akan adanya fasilitas
yang lengkap meskipun nyatanya tak terdapat di sini tak membuat aku merasa
menderita. Justru karena sebuah kesederhanaan aku merasakan arti nyaman dan
bahagia yang sesungguhnya. Tak perlu mewah untuk hidup nyaman. Hadirnya
keluarga kecil yang bahagia membuat aku seakan melupakan keadaan poskoku yang
bisa aku bilang paling buruk di antara kedelapan posko yang ada di kecamatan
tempatku KKN ini. kebahagiaan yang
kuharap jauh-jauh hari ternyata benar-benar aku dapatkan, meskipun itu dalam
bentuk yang berbeda. Bagiku gubuk kecil ini cukup menjadi surga sesaatku. (part
3)
Artikel ini mengingatkanku masa-masa kecil yang kutinggallkan disana
BalasHapusklu gk salah basri itu mungkin teman sekolahku dulu di MIN T.RILAU (ex MIS polejiwa).bila berkenan dan suka share buat pemilik blog Fahrizal mohon titip no tlpx yg valid di email saya.Thanks